Pasar Tradisionil Taman Alfa


Hampir 2 minggu sekali di sabtu pagi hari aku bersepeda sendiri ke pasar tradisionil. Sambil berolahraga blusukan di pasar tradisionil. Di pasar tradisonil biasanya aku beli daging kesukaanku. Tapi pagi tadi aku bersepeda dengan anak gadisku yang lagi liburan dari kuliahnya di Bogor.Selesai belanja aku baru sarapan bubur atau bihun goreng di dalam pasar.

Di dalam pasar tadisionil aku senang memperhatikan para penjual dan pembeli. Senang memperhatikan para pedagang daging yang mem “bokis” para pembelinya agar mau membeli lebih banyak dari yang diminta pembelinya. Senang melihat ibu-ibu ngeyel nawar harga sama pedagang. Kadang-kadang ibu-ibu itu berteriak ketika potongan daging kelebihan berat itu diambil lagi oleh pedagangnya.

Aku bukan ahli belanja. Kalo pulang belanja aku suka “dimarahi” isteriku karena aku katanya belanja terlalu banyak. Mungkin aku termasuk golongan yang bisa dibokis oleh tukang daging pasar tradisionil atau mungkin aku suka lapar mata….karena doyan makan.

Di pasar tradisionil, aku suka memperhatikan orang-orang yang datang dan pergi pada suatu kios. Yang sering aku perhatikan kios daging. Ada yang datang dengan sangat yakin akan apa yang akan dibeli, berapa banyak dan langsung bayar. Ada yang ragu-ragu penuh pertimbangan. Mungkin kawatir harganya terlalu mahal.

Yang menarik ketika aku lihat singkong yang baru dicabut dari tanah. Lihat singkong aku ngiler banget. Aku langsung beli 3 kilo. Murah banget kupikir harganya 2 ribu sekilo. Terbayang 2 ribu beli goreng singkong di seberang kantor cuma dapat 2 potong. Ini beli 3 kilo, sampe di rumah diomelin beli singkong banyak amat??.

Tadi pagi aku ulangi kesalahanku lagi. Itu karena aku tergiur kacang tanah bogor yang masih dibungkus tanah. Aku teringat kampungku, ingat nikmatnya kacang bogor rebus. Beli 2 kilo, sampe rumah…eh ini kebanyakan belinya….hahaha…lucu emang.

Bersepeda dan blusukan ke pasar tradisionil lama-lama jadi hobi dan refreshing tersendiri di sabtu pagi. Kadang ketika istirahat sarapan bihun kuah, bisa ikut dengerin gosip-2 yang diomongin para pedagang dengan pembeli langgganannya. Aku suka berlagak autis tapi mendengarkan gosip mereka. Mereka ngomongin mulai dari acara-acara di lingkungan Taman Alfa sampe berita politik di TV.

Tapi yang menarik di pasar tradisional Taman Alfa ini sungguh menampilkan Indonesia kecil yang pluralitas. Pedagang dari berbagai etnis bercampur, kadang terlihat saling bantu. Pembeli juga dari berbagai etnis ada di sini. Berbagai macam daging dan ikan ada di sini.

Tanpa aku sadari ternyata aku menikmati blusukan di Pasar Tradisionil.

Selamat menikmati week end bersama keluarga untuk warga VRF semua…..Kayaknya harum sop daging belanjaanku yang dimasak istriku harumnya sudah mulai menguar….membikin perutku memberontak…:)

– Posted using BlogPress from my iPad

About Arif Wibowo

Passion on Photography Live in Jakarta, Indonesia. Working in oil and gas company. Like traveling, bicycle, and photography. Born in Sukabumi, West Java. Graduate from Physics ITB 1985.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s