Good Projects and Financially Strong


Itulah syarat untuk menjadi perusahaan minyak yang kuat. Good Projects artinya kita punya activities object atau project yang jika dibiayai atau diberikan investasi akan memberi hasil -return- yang besar berlipat ganda. Good Projects di Perusahaan minyak adalah usulan-usulan investasi yang akan memberikan pengembalian yang bagus pada pemegang saham sehingga bisa menanamkan kembali uangnya untuk ekspansi.

Good projects tentunya low risk high return, tetapi bisa juga high risk high return. Good projects bisa berupa usulan atau proposal pemboran eksplorasi, pemboran pengembangan atau sisipan, kerja ulang pindah lapisan ( work over ) atau bahkan usulan block acquisition. Jika kita berinvestasi di Good Projects tentu uang kita akan dapat penghasilan atau return dan bahkan berkembang sehingga aset kita bisa bertambah banyak. Sebagai investor wajar jika tak mau kehilangan investasi. Sama halnya jika kita taruh uang di deposito, kita ingin dapat bunga yang besar. Juga jika kita simpan uang di koperasi kita ingin dapat SHU sebesar-besarnya dan tak mau uang kita berkuranga atau hilang.

Buat industri kita Good Projects artinya kita bisa mendapatkan hydrocarbon discovery dan succesful commercialization. Jika kita punya Good Projects tetapi tak ada investasi atau financially weak, tentu juga aset kita tak bisa berkembang.

Industri minyak adalah industri yang high risk big investement. Bung Karno ketika ditanya tentang penggunaan modal asing untuk pengembangan sumber daya minyak bumi, dia berkata – Tidak usah kita exploitasi minyak kita sekarang, nanti akan kita eksploitasi sendiri ketika para pemuda-pemudi kita telah pandai dan menguasai teknologi perminyakan. Tetapi Bung Karno lupa bahwa industri minyak adalah industri high risk dan big investment. Dimanapun juga bisnis minyak yang mengandung resiko tinggi sehingga resikomitu perlu dibagi dan ditanggung oleh banyak pihak dalam hal ini investor. Begitu besarnya resiko dan biaya investasi sehingga tak mungkin dibiayai oleh uang negara atau uang rakyat. Dari sini di masa Orde Baru lahirlah model production sharing contract.

Di masa Orde Baru, production sharing contract adalah bentuk pengelolaan industri migas yang paling sesuai dengan Pasal 33 UUD 45. Tetapi saya dan kawan-kawan praktisi migas pada masa itu mempertanyakan apakah kita sebagai bangsa Indonesia sudah bisa melakukan industri minyak sendiri. Menjadi the real player. Dulu isu nya adalah kami dianggap tidak menguasai teknologi perminyakan. Lalu Pemerintah membuat program Indonesianisasi. Para profesional migas Indonesia harus secara bertahap menggantikan para pekerja asing di perusahaan-perusahaan minyak yang beroperasi di Indonesia. Itunkemauan politik Pemerintah Indonesia. Tetapi sampai begitu banyak sarjana Indonesia menguasai teknologi perminyakan, tetap saja orang Indonesia tidak bisa menjadi penentu dan pengambil keputusan utama dalam perusahaan minyak. Begitu akhlinya para profesional Indonesia sampai mereka laku bekerja di seluruh dunia. Itu sudah terbukti. Profesional perminyakan Indonesia banyak yang bekerja di berbagai belahan dunia. Tetapi apakah orang Indonesia sudah menguasai industri perminyakan di Indonesia. Strategi program Indonesianisasi ternyata hanya menghasilkan tenaga terampil perminyakan tetapi bukan pemain industri perminyakan.

Bagaimana agar orang Indonesia bisa menjadi pemain industri perminyakan yang riil nyata, bukan kuli perminyakan? Itu berarti kita harus bisa menghasilkan Good Projects dan Financially Strong. Financially strong artinya kita punya kemampuan menarik uang dunia masuk membiayai Good Projects kita. Kita harus bisa punya akses pada pusat-pusat keuangan dunia atau pasar-pasar modal dunia. Pusat keuangan dunia ini sangat terbatas ” keanggotaan” nya. Perlu perjuangan tersendiri untuk memasukinya. Di korporasi kita ada departemen yang bertugas untuk mendapaykan akses ke pusat-pusat keuangan dunia, sementara tugas kita adalah menghasilkan Good Projects. Kita para geoscientist dan engineer bertugas untuk menghasilkan Good and Safe Projects.

Di Indonesia ini tidak banyak perusahaan nasional yang pemain perminyakan sejati. Artinya pemain yang punya Good Projects dan Financially Strong. Kita adalah perusahaan nasional yang sedang berjuang untuk punya Good Projects dan Financially Strong.

Dalam perjuangannya Perusahaan kita ini pernah mengalami masa-masa krisis yang sangat gawat. Sejak saya bergabung di Perusahaan ini di tahun 2005, Perusahaan ini sudah dua kali mengalami masa krisis yang hampir menghempaskan Perusahaan ini. Yang pertama adalah krisis Lumpur Sidoarjo di tahun 2006-2007 dan krisis jatuhnya harga minyak dari 140 usd per barel ke 80 usd per barel di tahun 2008-2009, sehingga kita tidak melakukan pemboran di tahun 2009. Kedua krisis itu kita rasakan sebagai tekanan yang luar biasa pada fundamental perusahaan dan kehormatan kita sebagai profesional perusahaan kita.

Pada kedua krisis itu kita semua dihadapkan pada tantangan dan pertanyaan pada diri kita : bagaimana nasib perusahaan kita dan akan kemana perusahaan kita bergerak. Belum kita pulih dari kehancuran citra kita karena krisis pertama Lumpur Sidoardjo, kita dihantam krisis financial hingga kita sukar membayar kewajiban-kewajiban kita. Dalam situasi seperti itu teman-teman kita mulai meragukan kemampuan Perusahaan, mereka buka parasut cadangan. Beberapa diantaranya segera naik sekoci.

Kita alami dua krisis besar. Dari krisis bisa melahirkan para pemimpin masa depan yang tangguh, ” the leader” atau “the winner” tetapi krisis juga bisa melahirkan pecundang atau ” the loser” atau “the quitter” Perlu kita ingat dan catat : The loser never win! And, the Winner never quit.

Sekarang ini di tahun 2011, walaupun belum sempurna bisa berlari, kita mulai pulih bisa merangkak. Keluar dari krisis adalah pengalaman dan pendidikan yang sangat berharga bagi kita. Di mana kita bisa kursus atau sekolah “cara keluar dari krisis”? Kita tidak bisa pergi kursus tentang “keluar dari krisis”. Tetapi itulah pengalaman kita berjuang untuk menjadi ” the real oil player” bukan sekedar menjadi skilled oil profesional. Emas dan loyang dibedakan dan dipisahkan di pembakaran. Krisis memisahkan mana emas mana loyang. Perusahaan ini tidak cukup mencari skilled profesional tapi perlu orang-orang yang berkarakter untuk menjadikan kita “the real oil player” berani bertahan dan menembus krisis hingga selamat keluar dari krisis.

Kita harus bersyukur pada Tuhan dan bangga bahwa kita boleh mengalami krisis, boleh ditempa dalam api pembakaran untuk dimurnikan. Semoga Tuhan menyertai kita selalu untuk keluar sebagai pemenang.

About Arif Wibowo

Passion on Photography Live in Jakarta, Indonesia. Working in oil and gas company. Like traveling, bicycle, and photography. Born in Sukabumi, West Java. Graduate from Physics ITB 1985.
This entry was posted in Management, Petroleum. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s