Sejarah Tanah Kutai ( 7 )


Dan Kesempatan ini digunakan oleh pihak Pemerintah Inggris mengirim Bill Dalton ke Kutai guna mengadakan penyelidikan dengan motib sebagai Ahli Antropologi yang meneliti daerah Kutai selama 15 bulan yakni pada tahun 1827 – 1828. Hingga laporan ini memancing keinginan pemerintah Inggris untuk memperkuat hubungan ke kutai dan pada bulan februari 1844 pemerintah Inggris mengirim ekspedisi yang dipimpin oleh Jhon Erskine Murray dengan tujuan untuk memonopoli perdagangan dan ekspedisi ini berakhir dengan peperangan antara Kutai dan Inggris dan melibatkan perampokan atas kapal dagang Belgia sehingga menjadi perhatian dunia yang mana beritanya ditulis pada surat kabar harian Hongkong dan belanda merasa berhak untuk mengambil tindakan atas perkara tersebut karena Belgia menuntut ganti rugi kepada pihak belanda, yang bertanggung jawab atas perlakuan dari Pasukan Kesultanan Kutai. Sehingga pada bulan april 1844 Belanda mengirim 2 buah kapal tempur bernama The Anna dan The Young yang dibawah komando Letnan Laut I T Hoof yang menembaki Kota Samarinda sampai Kota Tenggarong sehingga Ibukota Kesultanan Kutai ini dibumi hanguskan Istana dan Mesjidnya terbakar dan pimpinan perang Kutai Kalamenteri Awang Long gelar Ni’Raden Sujidiselerong alias Pangeran Ariyo Senopati meninggal dunia terkena runtuhan benteng dari kayu ulin.  Sehingga Aji Sultan diungsikan ke Kota Bangun dan akhirnya takluk kepada Pemerintah Belanda sesuai pakta perjanjian Tepian Pandan Tracktat yang isinya menyatakan kedaulatan penuh ditangan Pemerintah Belanda Aji Sultan diangkat berdasarkan Besluit oleh Pemerintah Kerajaan Belanda dan menjalankan pemerintahan atas perkenan Kanjeng Gubernur Belanda di Batavia sehingga kekuasaan penuh berada ditangan pemerintah belanda yang memberikan Gelar Lider, Niu Van Oranje Nasau kepada para pembesar Kesultanan Kutai, dan sampai pada pemerintahan penjajah Jepang Kesultanan mengabdi Pada Jepang dan Mendapat Gelar Khoti dan Indonesia merdeka Kekuasaan Kesultanan benar benar dihapuskan pada tanggal 1 Januari tahun 1960 dan baru di hidupkan Kesultanan ini pada tahun pada tanggal, 22 september 2001 dengan di Tabalnya Aji Pangeran Adipati Praboe Anoem Suryadiningrat dengan gelar Aji Sultan Salehuddin II dan tidak mempunyai hak memerintah hanya sebagai pemangku adat atau pelestari budaya Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dan sama halnya pada tanggal sebelumnya yakni tanggal 3 September 2001 di Muara Kaman didaulatnya A.IANSYAHRECHZA.F gelar Maharaja Srinala Praditha Wangsawarman sebagai Pemangku Kerajaan Kutai Mulawarman sebagai pewaris dan pelestari budaya Kerajaan Kutai Martapura sekali gus Kepala Adat Besar Kec. Muara Kaman. Inilah perjalanan panjang Kutai dari Masa Kemasa. Mari kita belajar dari sejarah dan bukan kita membuat sejarah namun sejarah itulah yang membawa kita pada masa-dan ruang serta waktunya.(MK)

About Arif Wibowo

Passion on Photography Live in Jakarta, Indonesia. Working in oil and gas company. Like traveling, bicycle, and photography. Born in Sukabumi, West Java. Graduate from Physics ITB 1985.
This entry was posted in History, Kutai. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s