Sejarah Tanah Kutai ( 5)


Perhara tetap menimpa Kutai dan walapun Aji Kiji Pati Jaya Perana telah menamakan Kerajaanya Kutai Kartanegara Ing Martadipura dan membuat Kitab Panji Selaten dan Beraja Niti (Maharajaniti) yang merubah dewan Ponco prabu dan Aji Sapta dengan Dewan Perwalian terdiri dari Mangkubumi, Perdana Menteri dan Oria Menteri, Kala Menteri dan Asma Menteri, tapi tetap saja kemelut melada kerajaan ini, dan pada tanggal, 7 Nopember 1635, tujuh buah kapal terdiri dari 5 kapal pemburu dan 2 buah kapal Belanda lainya memasuki Sungai Mahakam dipimpin oleh Kapten Grit Thomassen Pool. Dan Baru pada tanggal, 18 Nopember 1635 terjadi perundingan antara Belanda dan Kutai dan isi perundingan tersebut ditulis dalam bahasa Belanda sebagai berikut :
“In het vervolg aijk aan de javanen makassaren en andere vreemde handelaarste ontzeggen. De vrije on Belemmerde handel in zijn landen alleen aan de banjareen en nederlaners, met uitsluiting van alleandre natlen te vergunnen.”
Perjanjian ini ditandatangani oleh pihak Belanda dan Kutai tertanda Adji Pengeron Cinom Pansegy Anoemdappa Ingh Martadipoera dan Onderkoopman Pieter Pietersz dan perjanjian ini mengalami stage selama 22 tahun karena pada tahun 1638, Rakyat Kesultanan Banjar menyerbu benteng VOC dan pada tahun 1668 atas perkenan Sultan Banjar member ijin pada orang Bugis untuk menetap di Kutai hal ini terkait dengan permintaan dari Mangkubumi Raja Goa Kraing Patinggalon terhadap Pua Adi yang membangun pemukiman di Mangku Jenang dalam wilayah Kutai. Dan dalam tahu 1671 Kompeni Belanda mengirim utusan ke Kutai bernama Kapten Paoeloes De Bock namun tidak mendapat simpati dan baru pada tahun 1673 diutuslah Kapten Nachoda Van Heys sehingga pada tanggal 23 Desember 1675 Kapten Nachoda Van Heys menyampaikan laporan ke Pemerintah Kerajaan Belanda isisalinanya sebagai berikut :
“Orang Kutai itu jahat, mereka punya benteng serta kapal-kapal sedalam 10-20 kaki, mereka menembaki dari pinggir benteng yang dilakukan oleh sekitar 200 prajurit yang mengakibatkan kerugian pada VOC.”
Dalam tahun 1686, Aji Pangeran Majakusuma bersama Raja Pasir berangkat ke Makasar dengan tujuan mempererat hubungan dikutai pemerintahan dipegang oleh Aji Ragi gelar Aji Ratu Agung dan tahun 1700 M adik Aji Ragi bernama Aji Mangkurat gelar Aji Pangeran Adipati Tua Ing Martadipura dinobat menjadi Raja Kutai dan didalam tahun 1705 Raja Kutai tersebut melangsungkan perkawinan, dengan Anak Karaeng Baturombo Raja Wajo sehingga pada tahun 1730 orang Bugis Wajo dipimpin Petta Sebenggareng dan Pangeran To Rawei diberi ijin oleh Aji Mangkurat membuka pemukiman diseberang Mangku Jenang dan Menjadi Kota Samarinda sekarang.
Dalam Tahun 1738, Aji Kado yang merupakan anak keturunan dari Maharaja Kutai Martapura yang diperisteri oleh Meruhum Pamerangan mengadakan Kudeta dan merebut kekuasaan dari Aji Sultan Muhammad Idris yang diihtiarkan dibunuh di Tanah Wajo, dan atas desakan dari Aji Kado yang juga mengambil isteri Aji Sultan Muhammad Idris dan memangku anak tirinya bernama Aji Imbut, dan Aji Intan diaberdalih untuk diangkat menjadi Aji Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dengan gelar Aji Sultan Muhammad Aliyiddin yang sempat berkuasa selama 42 tahun dan pusat pemerintahan Kutai di Pamerangan (Jembayan sekarang), sehingga orang-orang bugis yang patuh dengan Aji Sultan Muhammad Idris mencari cara agar dapat menaklukan Aji Sultan Aliyiddin (alangkah sayang nama Sultan ini tidak dimasukan dalam Silsilah Kesultana walaupun berkuasa selama 42 tahun dikarenakan dia berdarah Kerajaan Kutai Martapura), maka atas ihktiar orang bugis akhirnya pada tahun 1752 Poa Ado (Puak Adi) bernama La Sawedi Daeng Sitebba mendapat dukungan dari Dato Tan Perana lela sebagai pimpinan Bajak Sulu Kebuntalan dari Filipina yang dibiarkan merampas harta Kerajaan Kutai di Pamerangan, sehingga Aji Sultan Aliyiddin meminta Bantun dari Belanda tetapi Belanda sedang dalam peperangan dengan Kesultanan Berau.

BERSAMBUNG

About Arif Wibowo

Passion on Photography Live in Jakarta, Indonesia. Working in oil and gas company. Like traveling, bicycle, and photography. Born in Sukabumi, West Java. Graduate from Physics ITB 1985.
This entry was posted in History, Kutai. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s