Sejarah Tanah Kutai (3 )


Dari nama antara Kerajaan Kutai Martapura di Muara Kaman dan Kesultanan Kutai Kartanegara di Tenggarong, membuat kita lebih dapat memahami bentuk dan teori beririnya Kerajaan Kutai bahkan sangat jelas bahwa Kerajaan Kutai Martapura ini berada di wilayah pedalaman sungai Mahakam bermula di abad ke 4 M, sedangkan Kesultanan Kutai Kartanegara baru ada dimulai abad ke 13 M, bahkan sejak kurun waktu 14 abad Kerajaan Kutai Martapura di Muara Kaman ini memiliki hak secara De-Jure dan De-Fakto dalam pemerintahan sebagai Negara Berdaulat penuh tanpa pernah menjadi bawahan dari Negara Kerajaan Manapun hal ini berlangsung dari Tahun 350 M-1605 M, sedangkan Kesultanan Kutai Kartanegara ini tidak memiki hak De-Fakto hanya memiliki hak De-Jure saja hal ini dibuktikan bahwa dinyatakannya dalam tambo bahwa didaerah pesisir pantai Timur Kalimantan dipimpi oleh seorang Batara dibawah kekuasaan Kerajaan Majapahit, Batara ini sekaligus sebagai Pimpinan Militer dan Merangkap Hamangkubumi Wilayah setingkat Adipati, yang menguasai daerah Hulu Dusun, Jahitan Layar Sambaran dan Binalu yang dipusatkan di Jahitan Layard an Batara Tersebut adalah Raden Kusuma pembesar dari Keturunan Raja Singasari.
Aji Batara Agung Dewa Sakti memperisteri anak Seorang Adipati Indu Anjat di Batang Lunang daerah Perian Sekarang, dan Putri tersebut adalah Keponakan dari Seorang Petinggi Hulu Dusun bernama Babu Jaluma, dan Putri Tersebut anak Dari Serading Dipati bernama Karang Melenu dan Melahirkan Aji Paduka Nira, yang dalam tahun 1325 Aji Paduka Nira Menggantikan Aji Batara Agung Dewa Sakti sebagai Batara karena Aji Paduka Nira Berhasil Menaklukan daerah Buntang, Santan, Gunung Kemuning, Pandan Sari, Tanjung Semat, Rinjang, Rihang, Panyuangan, Senawan, Sangan-sangan, Kembang, Sungai Samir, Dundang, Manggar, Tanah Habang, Susuran Dagang, dan Tanah Malang, Pulau Atas, Karang Asam, Karang Mumus, Sambumi, Sembakung, Sabuyutan, Mangku Palas yang semula Negeri Wilayah Kerajaan Kutai Martapura yang berpusat di Muara Kaman. Dan Aji Paduka Nira berhasil Pula Melarikan Putri dari Kerajaan Kutai Martapura bernama Putri Indra Perwati Dewi, Putri ini sedang berada ke Mengkaying di Bungalo dan diambil Isteri oleh Aji Paduka Nira yang bergelar Aji Batara Agung Dewa Sakti dan Putri Indra Perati Dewi anak Maharaja Nala Guna Perana Tungga diberi Gelar Aji Paduka Suri atau Mahasuri Dibengalon.
Pada Tahun 1360 Aji Batara Agung Paduka Nira Mininggal Dunia dan Meninggalkan 7 Orang Putra Putri dari hasil perkawinanya dengan Aji Paduka Suri. Dan Baru pada tahun 1370 Maharaja Sultan datang Menghadap Brawidjaya III Raja Majapahit untuk meminta pengakuan diplomatic hal ini didukung oleh Anak Pembesar dari Suku Tunjung bernama Puncan Karna yang memperisteri Aji Raja Putri adik dari Maharaja Sultan yang telah membentuk system pemerintahan Dewan Ponco Prabu dan Dewan Perwalian Aji Sapta dan Menamakan Daerahnya Ing Kute Kartanegara yang mana nama ini adalah pengabadian dari nama Raja Singasari bernama Kartanegara.

About Arif Wibowo

Passion on Photography Live in Jakarta, Indonesia. Working in oil and gas company. Like traveling, bicycle, and photography. Born in Sukabumi, West Java. Graduate from Physics ITB 1985.
This entry was posted in History, Kutai. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s