Puisi Pak Habibie untuk Almarhumah Ibu Hasri Ainun Habibie


Ibu Hasri Ainun Habibie telah berpulang pada Sabtu 22 Mei di RS Ludwig-Maximilians-Universitat, Klinikum Grohadern, Munich sekitar pukul 17.35 waktu Jerman atau sekitar pukul 22.50 WIB.

Salah seorang kawanku mengirimkan puisi Pak habibie untuk almarhum isterinya kepadaku. Sungguh puisi yang indah dan sangat menyentuh tapi sangat bernas. Aku belajar banayka dari puisi Pak Habibie ini. Walaupun Pak Habibie sangat dikenal sebagai pakar teknologi tetapi ia memiliki hati yang halus. Suatu kecerdasan hati yang melekat pada kecerdasan inteletualnya.

Pak Habibie mengajarkan pada kita tentang sumber kekuatan seorang lelaki yang sukses digdaya. Kekuatan digdaya seorang lelaki atau suami bukan semata miliknya sendiri tetapi milik bersama, milik dia dan isterinya.

Aku sangat tergugah dan tersentuh oleh puisi Pak Habibie ini, untuk itu salinan puisi ini aku simpan dalam Notes dan blogku.

Puisi BJ Habibie utk almarhum istrinya .

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.

Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.

Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada, aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik. Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan, Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada. selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku, selamat jalan, calon bidadari surgaku ….

BJ.HABIBIE

About Arif Wibowo

Passion on Photography Live in Jakarta, Indonesia. Working in oil and gas company. Like traveling, bicycle, and photography. Born in Sukabumi, West Java. Graduate from Physics ITB 1985.
This entry was posted in Indonesia, people, Reflection. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s