Eyang De Wafat


Hari itu tanggal 28 Desember 2008, jam 14.20, aku sedang menunggu penerbanganku ke Jakarta di ruang tunggu Bandara HananDjoeddin Tanjung Pandan Belitung, ketika aku mendapat miss call dari Ibuku dan Adikku Koko di Jakarta, kemudian disusul dengan berita sms bahwa Eyang De telah wafat hari itu jam 2 siang. Aku sedikit terkejut dan agak panik, tapi aku bersyukur bahwa aku sedang dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Bersyukurlah pula kami karena kami tidak jadi memperpanjang liburan keluarga kami di Pulau Belitong dan segera pulang ke Jakarta. Aku katakan pada adikku Koko bahwa jam 3 sore pesawatku akan take-off dan akan tiba di Cengkareng jam 4 sore.

Eyang De adalah panggilan untuk Ibu Maria Magdalena Soepartinah Soetarto. Beliau adalah kakak kandung dari Ibuku. Ketika aku masih kecil, kami semua memanggil beliau Bude yang dalam bahawa Indonesia berarti Uwak, kakak dari Ibu kami. Tetapi sejak Ibuku punya cucu dan menjadi Eyang, panggilan beliau jadi Eyang De. Panggilan yang penuh rasa hormat karena beliau adalah anak nomor dua dari sebelas bersaudara, sementara Ibuku bernomor urut delapan.Bisa dibayangkan betapa banyaknya keponakan Eyang De dari adik-adiknya.

Ibu Maria Magdalena Soepartinah Soetarto atau Eyang De lahir pada tanggal 19 Februari tahun 1921, jadi usia beliau akan genap 88 tahun nanti di Februari 2009 jika beliau masih sehat. Suatu karunia usia yang luar biasa. Eyang De adalah sosok seorang ibu yang lembut, cerdas, pemberi semangat untuk para keponakan dan cucu-cucunya, disiplin dan penuh perhatian dan sayang pada para keponakannya. Beliau bisa menjadi teladan dalam menjalankan kehidupan gamanya sebagai seorang Katolik. Hampir semua keponakannya yang jumlahnya puluhan itu mengenalnya secara dekat karena pernah mengalami betapa kuat kasihnya pada keponakannya. Mengapa beliau bisa begitu dekat dengan para keponakannya?

Pada pernikahannya yang pertama, beliau telah menjadi janda pada usia 33 tahun karena suaminya meninggal sebelum sempat dikaruniai putra. Pakde Sis, yang aku tahu, adalah suaminya yang pertama. Kami memanggilnya Pakde Sis dan Eyang De kami panggil Bude Sis. Sebagai janda beliau punya banyak waktu untuk mengunjungi keponakan-keponakannya dari adik-adik dan kakaknya yang masih kecil. Eyang De muda punya sifat keibuan yang tinggi sehingga mencurahkan kasih sayang pada keponakan seperti pada ank-anaknya sendiri. Itu aku alami bersama adik-adikku. Sehingga kami seakan punya dua Ibu. Ibuku sendiri dan Eyang De yang ketika itu kami panggil sebagi Bude. Dengan wafatnya Eyang De aku,juga saudara-sauraku dan sepupuku sangat kehilangan. Banyak rasa sesal di hati kami. Rasanya kami belum cukup membalas kasihnya pada kami.

Kami memanggil Eyang De dengan sebutan Bude Sis sampai beliau menikah lagi dengan seorang Duda, Pak Soetarto pada tahun 1975. Ketika itu usia Eyang De lima puluh empat tahun. Pak Soetarto ketika itu sudah mempunyai tiga orang putri yang sudah dewasa menjelang menikah. Pak Soetarto meninggal pada akhir tahun delapan puluhan, setelah lama menderita sakit stroke yang melumpuhkannya. Selama beberapa tahun Eyang De merawat Pakde Tarto hingga wafatnya. Suatu pengabdian seorang isteri yang luar biasa. Itu bisa terjadi karena iman dan kesabarannya yang sangat kuat.

Eyang De wafat di Rumah Sakit Puri Cinere di ruang ICU setelah menjalani operasi di kepala bagian belakangnya. Eyang De mengalami pendarahan di bagian dalam tempurung kepalanya karena kepalanya terbentur lantai karena jatuh. Mungkin kareana usia dan jantungnya yang lemah, membuat operasi bedah otak terlalu berat untuk fisiknya.

Pada hari Jumat sore tanggal 19 Desember 2008 sekita jam tiga sore, Eyang De terjatuh di teras depan rumahnya ketika sedang mengawasi tanaman-tanaman hiasnya. Rupanya Eyang De kehilangan keseimbangan dan mengalami blackout, lalu terjatuh dengan kepala bagian belakang terbentur lantai. Eyang De sempat didudukkan dan muntah. Lalu di bawa ke UGD di RS Fatmawati. Eyang De diperiksa dengan EKG dan CT scan. Ada pendarahan di kepala bagian belakanganya.

Pada hari minggu malam kira-kira jam sebelas, Eyang De dioperasi di RS Puri Cinere. Operasi selesai jam setengah lima pagi keesokan harinya. Operasinya berlangsung sekitar lima jam. Sejak itu Eyang antara sadar dan tak sadar sampai beliau wafat pada tanggal 28 Desember 2008 sekita jam 2 siang.

Bagiku Eyang De sangat istimewa. Beliau sangat sabar menyemangati aku ketika aku baru datang di Jakarta di tahun 1985 untuk mencari kerja. Dia sudah sama seperti ibuku sendiri. Beliau dengan senang hati menampungku tinggal bersamanya sejak tahun 1985 hingga tahun 1991 di rumahnya di Cipete Selatan Jakarta Selatan.

About Arif Wibowo

Passion on Photography Live in Jakarta, Indonesia. Working in oil and gas company. Like traveling, bicycle, and photography. Born in Sukabumi, West Java. Graduate from Physics ITB 1985.
This entry was posted in Reflection. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s