Menjadi Manajer di Industri Migas


Banyak buku-buku yang membahas tentang manajer, manajemen, atau manajerial. Anda semua sudah tahu tentang itu. Saya belum sehebat mereka para pakar penulis tentang manajemen dengan berbagi spesilaisasinya. Tetapi yang akan aku sampaikan di sini adalah persepsi, pengalaman pribadi  dan wawasan pribadi aku sebagai manajer.

Menurutku menjadi manajer yang tersulit adalah mengelola hubungan antar pribadi dalam tim yang kupimpin.  kita akan berhadapan dengan hal hal relatif yang dituntut oleh mereka. Persepsi tentang adil itu yang sukar. Kita mereasa telah berbuat adil tetapi mereka menerima kita tidak berbuat adil. Yang berkaitan dengan manusia selalu kompleks. Ini adalah aspek yang menurutku paling sulit dalam tugas-tugas manajerial.

Yang kedua tentang manajerial yang kualami adalah punya visi jauh ke depan. Sementara anak buah sibuk bekerja fokus pada program-program yang telah ditetapkan untuk memnghasilkan yang terbaik, kita para manajer sudah harus jauh berpikir ke depan “what next after this”. Untuk aspek manajerial yang satu ini aku merasa sangat suka.

Hal ketiga sebagai manajer adalah keterampilan membangun organisasi, menata organisasi sesuai tuntutan strategi untuk mencapai goal perusahaan. Di industri perminyakan yang sangat dinamis sekarang ini, karena harga minyak naik terus membubung mendekati  $US100 per barrell, industri minyak jadi sangat-sangat dinamis.  Telah terjadi turbulensi di dalam industri minyak diberbagai aspek. Terutama dibidang tenaga kerja ahli. tentunya dibidang pengadaan penunjang industri minyak pun terjadi turbulensi. Aku akan cerita secara khusus pengalamanku mengenai ini di kesempatan lain.

Aku suka memodifikasi struktur organisasi  agar cocok dengan “current strategy”. Industri minyak yang saat ini sangat dinamis, mebutuhkan strutur organisasi yang juga dinamis dan luwes. Tetapi mengubah struktur organisasi tidak mudah dan secepat membalik tangan. Anda yang pernah jadi eksekutif tentu tahu seberapa cepat kita bisa mengubah struktur. Ini bisa berpengaruh pada business proses, problem resistance to change, persetujuan Pemerintah ( BPMIGAS ), penyesuaian pada para karyawan terhadap struktur yang baru. Walaupun di atas kerta stuktur baru diperkirakn akan lebih efisien, ujung-ujungnya bukan lebih efisien tapi malah mengurangi momentum organisasi. Ini jadi dilema buat kita sebagai eksekutif. Struktur yang ada tidak sudah tidak kompetitif, tetapi mengimplementasi struktur baru punya konsekuensi memperlambat gerak organisasi. Padahal kita harus naikkan produksi karena harga minyak sedang bagus, harus banyak melakukan pemboran eksplorasi dan exploitasi, harus punya banyak usulan pemboran, harus punya banyak team untuk melakukan studi untk menghasilkan usulan pemboran, harus mempercepat proses pengadaan, harus menjaga dan meningkatkan health, safety and environment aspect disetiap kegiatan dan seterusnya masih panjang mata rantainya.

Sementara itu dulu, saya akan sambung lagi lain kali.

About Arif Wibowo

Passion on Photography Live in Jakarta, Indonesia. Working in oil and gas company. Like traveling, bicycle, and photography. Born in Sukabumi, West Java. Graduate from Physics ITB 1985.
This entry was posted in Management, Opini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s