Benarkah Kita Kaum Profesional Seperti Uang Saham?


Apakah itu uang saham? Kalau kita membeli saham perdana dari suatu perusahaan, pada lembar saham itu akan tertulis harga nominal dari tiap lembar saham. Setelaha kita miliki beberapa lama, jika lembar saham itu kita jual atau kita “cash” kan, harga tunai dari tiap lembar saham itu bisa dibayar dengan harga lebih tinggi, sama atau bahkan lebih rendah dari pada harga perdananya. Itu bergantung pada fundmental ekonomi dan citra perusahaan tersebut. Kita tentu lebih suka pegang atau beli uang saham perusahaan yang harganya terus naik. Tetapi kita pun tak tahu kapan kita akan cash kan uang saham kita. Kadang bisa kita rencanakan, kadang pada suatu waktu tertentu kita terpaksa, karena alasan tertentu, harus melepaskan saham kita. Kita ingin kapanpun uang saham kita dilepas harus dengan harga yang bagus. Atau kapanpun uang saham kita dibeli orang juga dengan harga bagus.

Ungkapan di atas sering aku gunakan sebagai metafore untuk kaum profesional. Mungkin metafore itu tidak 100 persen akurat, tetapi bisa menggambarkan tentang bagaimana kita mengelola harga kita sebagai seorang profesional. Itu yang sering aku katakan pada rekan-rekan praktisi profesional dan  anak-anak buahku atau anggota timku di Petroleum Industry atau dunia perminyakan. Mereka terutama adalah para geologist, geophysicist dan petroleum engineer.

Kaum profesional adalah orang yang menguasai suatu bidang keahlian, mencintai bidang itu, mengerahkan potensi dirinya untuk kemajuan bidang tersebut dan mendapatkan imbalan dan hidup dari keahliannya itu. Bagaimana kita mengelola profesionalisme kita seperti metafore uang saham di atas?

Ketika kita lulus dari universitas dan memasuki inustri sebagai fresh graduate employee kita mendapat gaji yang standard dalam perusahaan tertentu. Katakanlah sebagai salah satu perusahaan migas, karena pengalaman saya diindustri ini, tapi ini juga berlaku untuk industri lain seperti perbankan, jasa atau lainnya. Gaji kita sebagai fresh graduate itulah harga perdana uang saham kita. Atau setelah kita bekerja disuatu perusahaan beberapa tahun, angka gaji yang tertulis di  slip gaji kita, itulah harga nominal kita yang resmi tertulis.  Sekarang, jika kita resign dari perusahaan kita tempat bekerja dan melamar diperusahaan lain, jika diterima, berapa gaji kita? Itulah saat kita meng “cash”kan uang saham kita. Kta bisa mendapat harga sama dengan slip gaji terakhir, bisa lebih tinggi, bahkan berlipat atau lebih rendah? Yang paling buruk adalah tak laku dijual alias tak ada yang mau beli kita.

Bagaimana   harga kita itu bergantung seberapa kuatnya fundamental profesionalitas dan citra kita sebagai profesional. Seperti halnya perusahaan yang sahamnya diperjual belikan pada publik, kita sebagai proefesional harus selalu memperkuat fundamental profesionalisme kita tanpa perduli berapa harga kita pada slip gaji yang kita terima.

Bagaimana kita meningkatkan fundamental profesionalisme kita? yaitu pertama adalah dengan selalu meningkatkan kapasitas kita. Yang termasuk dan dimaksud dengan kapasitas adalah kemampuan kita mengerjakan berbagai project dalam waktu bersamaan atau multi-tasking. Kemudian pertumbuhan kedalaman pengetahuan dan skill kita di profesi kita. Pengalaman mengerjakan project yang berbeda dan bervariasi. Kunci dari peningkatan kapasitas adalah mau menerima penugasan apa saja dari perusahaan, terutama yang memberikan exposure pada beraneka project berbeda dalam kurun waktu yang singkat, tanpa peduli berapapun kita dibayar atau tanpa merasa bahwa kita underpaid dengan pekerjaan yang berjibun itu.

Banyak para profesional muda mengeluh jika diberi penugasan yang beraneka ragam, mereka merasa bahwa pekerjaan yang diberikan tidak sesuai dengan gaji yang diberikan. Banyak pula para profesional, level engineer, yang mengandalkan perbaikan gaji atau perbaikan kesejahteraan nya dengan cara bergabung atau mengandalkan gerakan Serikat Pekerja. Tidak ada salahnya bergabung dengan Serikat Pekerja karena itu hak yang dilindungi oleh undang-undang. Tetapi jika mengandalkan perbaikan kesejahteraan dengan mengandalkan gerakan Serikat Pekerja di jaman turbulensi tenaga profesional karena harga minyakyang sedang membubung,  tentulah keliru dan sama dengan melecehkan profesionalisme diri sendiri. Seolah-olah kita  tak laku di pasar. Akan lebih elegan jika kita meningkatkan kesejahteraan kita dengan meningkatkan kapasitas kita sehingga ada orang  atau perusahaan yang mau membeli kita dengan harga lebih tinggi karena kita punya kapasitas yang lebih besar daripada harga yang tertulis di slip gaji kita.

Industri perminyakan itu “sempit”,  jika kita berkapasitas bagus, kita tak bisa disembunyikan, pasti ada orang tahu dan ada perusahaan mau menawar kita. Apa lagi, faktor kedua penentu harga, kita memiliki citra dan attitude profesional yang sangat bagus. Demikian juga sebaliknya jika  kapasitas kita kurang / kecil atau attitude tak baik, harga kita akan  kita turun atau nol alias tak laku.

About Arif Wibowo

Passion on Photography Live in Jakarta, Indonesia. Working in oil and gas company. Like traveling, bicycle, and photography. Born in Sukabumi, West Java. Graduate from Physics ITB 1985.
This entry was posted in Opini, Petroleum. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s