Mengingat Peristiwa Rene Lous Conrad 6 Oktober 1970


Bagaimana peristiwa Rene Conrad terjadi? Latar belakang peristiwa sebenarnya kompleks, dan dibayang-bayangi perpecahan aliansi mahasiswa-ABRI, yang sudah dibangun sejak gerakan penjatuhan Soekarno pertengahan tahun 1966. Jadi begini ceritanya…

Sejak Soeharto menjadi Presiden di tahun 1968, aliansi Mahasiswa-ABRI sudah mulai retak, karena ketidaktegasan Soeharto dalam kasus G-30-S, dimana Soekarno dianggap terlibat. Kekecewaan mahasiswa mulai terlihat dalam soal status hukum Soekarno, ditambah dengan mulai adanya korupsi di Pertamina (dipimpin Mayjen Ibnu Sutowo) dan Bulog (dipimpin Mayjen Ahmad Tirtosudiro).

Kekecewaan soal dugaan korupsi ini tidak ditanggapi dengan serius oleh Soeharto, bahkan ditanggapi dengan kecaman terhadap orang2 yang menentang kebijakan tak tegasnya. Segera konflik ini berkembang menjadi konflik Mahasiswa pasca ’66 dan Mahasiswa aktivis’66, ditandai dengan Soe Hok Gie dan kawan-kawan mengirimkan peralatan wanita kepada anggota DPR-GR wakil mahasiswa, pertanda bahwa mereka lebih baik berdandan cantik daripada menyampaikan aspirasi mahasiswa saja tidak becus. Ini terjadi sebulan sebelum Gie meninggal, 16 Desember 1969.

KAMI sebagai organ gerakan 66, dianggap tidak lagi aspiratif. Dipelopori DM ITB, UNPAD dan UNPAR, ramai-ramai organisasi mahasiswa meninggalkan KAMI, dan akhirnya KAMI bubar di awal tahun 1970. Kebijakan DM ITB yang disebut back to campus ini ditandai dengan penguatan gerakan yang berasal dari kampus, seperti mulai didirikannya Student Center, dll. Tapi konflik yang sebenarnya antara Mahasiswa-ABRI mulai terjadi. Awalnya sederhana sekali.

Beberapa Walikota dan Gubernur yang berasal dari ABRI menjalankan kebijakan ‘ANTI RAMBUT GONDRONG’, kebijakan yang sungguh lucu dan tidak masuk akal ini dijalankan dengan semena-mena. Semacam ada razia di jalanan kepada anak muda, pelajar dan mahasiswa. Bahkan di Bandung hal ini juga menimpa mahasiswa ITB yang berambut gondrong.

DM ITB segera bereaksi frontal dengan menginisiasi gerakan ‘ANTI ORANG GENDUT’, menyindir pemerintah yang kebanyakan perutnya gendut. Reaksi frontal ini berlanjut dengan bentroka-bentrokan kecil, terutama antara mahasiswa ITB, dengan taruna Akademi Kepolisian angkatan 1970 (akan lulus tahun 1970), yang diberi tugas untuk mencukur rambut gondrong. Kodam Siliwangi waktu itu baik2 saja dan cenderung tidak peduli aturan itu, karena memang tidak penting juga.

Karena konflik ini berkembang menjadi tidak penting, Ketua Umum DM ITB Syarif Tando, Rektor ITB Prof. Doddy Tisnaamidjaja, Kapolri Jenderal Hoegeng Imam Santoso, Gubernur Akpol Irjen Awaludin Djamin, dan Kepala Kepolisian Kota Bandung Kombes Tjutju Sumirat (adik Prof Doddy Tisna A), berinisiatif mengadakan pertandingan persahabatan, antara mahasiswa dan taruna Akpol, demi mengakhiri perseteruan ga penting ini.

Pertandingan diadakan tanggal 6 Oktober 1970, sehari setelah Hari ABRI dimana Presiden Soeharto meminta kepada ABRI agar tidak melukai hati rakyat. Karena dilatarbelakangi peristiwa ‘ANTI RAMBUT GONDRONG’, maka supporter mahasiswa ITB memberikan dukungan dengan yel-yel yang (sepertinya) cukup menyakitkan hati taruna Akpol 1970 ini. FYI, Taruna Akpol 1970 adalah angkatan pertama hasil integrasi AMN, AAL, AAU dan Akpol, menjadi AKABRI, jadi taruna akpol ini diberi pendidikan dasar militer selama setahun.

Panasnya isi yel-yel ini ditanggapi dengan sabetan-sabetan kopel rim oleh Taruna Akpol, dan akhirnya pertandingan yang dimenangkan mahasiswa ITB, 2-0 ini berakhir dengan tawuran antara mahasiswa dan taruna akpol. Tawuran diakhiri oleh kepolisian bandung, dan akhirnya taruna itu diangkut ke gerbang depan untuk istirahat sebentar, menurunkan emosi mereka.

Lewatlah sebuah motor Harley, dikendarai oleh dua mahasiswa angkatan 1970, yang satu namanya Rene Louis Conrad, anak Elektro, satu lagi namanya Ganti Brahmana, entah jurusan apa. Saat dia lewat truk taruna akpol, Rene yang tidak tahu-menahu soal tawuran ini diludahi dari atas truk oleh salah satu taruna. Karuan saja dia panas dan bertanya siapa yang meludahi dia, kalau berani ayo turun. Eh, yang turun semua taruna, dan semuanya mengeroyok Rene. Ganti Brahmana yang lari tidak dikejar, karena sepertinya Rene yang menjadi sasaran pengeroyokan.

Menurut Ganti Brahmana dalam sidang kasus ini, Rene diperlakukan seperti bola, dilempar kesana kemari oleh para taruna. Yang benar-benar terlibat saat itu adalah beberapa taruna seperti Nugroho Djajusman (Kapolda Metro Jaya saat kerusuhan Mei 1998), S. Bimantoro, Rusdihardjo (keduanya pernah menjadi Kapolri), Hamami Nata (kapolda Metro Jaya saat kerusuhan 27 Juli 1996), dan Bahar Muluk (dikeluarkan dari Polri karena menewaskan seorang tahanan bernama Martawibawa saat interogasi). Rene dikeroyok sampai terperosok di got depan asrama Gedung F, sekarang menjadi Plasa Telkom di depan Gerbang Depan ITB. Saat terperosok itulah, Rene ditembak dari atas, peluru menembus bahu dan bersarang didadanya.

Para taruna itu karuan langsung panik dan segera membawa Rene pergi entah kemana. Siang itu menjadi hari yang kacau di ITB. Ganti Brahmana bersama teman-teman ITB mencari Rene ke RS Borromeus, rumah sakit lainnya, sampai ke kantor-kantor polisi, dimana hari itu balik mahasiswa menginterogasi polisi.

Kombes Tjutju Sumirat dan Prof. Doddy juga ikut mencarikan, sampai akhirnya mereka semua menemukan Rene yang sudah meninggal di sebuah kamar di Poltabes Bandung di jalan Merdeka. Jasad Rene berada dalam kondisi menyedihkan, dan hampir saja kantor itu dirusak oleh mahasiswa ITB. Seluruh rangkain peristiwa ini terjadi pada tanggal 6 Oktober 1970.

Pada tanggal 7 Oktober 1970, mahasiswa dan pelajar Bandung mengadakan aksi besar-besaran mengecam pembunuhan Rene Conrad, sekaligus menunjukkan solidaritas mereka kepada mahasiswa ITB. Aksi demontrasi ini diikuti sampai 50.000 massa aksi. Hari itu juga seluruh aparat polisi dan militer dikenakan konsinyering berat (tidak boleh keluar barak).

Pada tanggal 9 Oktober 1970, diadakan apel suci di kampus ITB, untuk melepas jasad Rene Conrad kepada keluarganya untuk dimakamkan di Jakarta. Ibu Rene sangat marah kepada Gubernur Akpol Irjen Awaludin Djamin, bisa dilihat foto kemarahan sang Ibu di www.gerakanmahasiswa78.blogspot.com, ya namanya juga kehilangan anak, akibat dikeroyok. Tapi pernyataan pejabat tinggi negara seperti Panglima Kopkamtib Jenderal Soemitro dan Kapolri Jenderal Hoegeng Imam Santoso cenderung membela para taruna. Kata-kata seperti, kalau mahasiswa tidak emosional tentu peristiwa ini tidak perlu terjadi, keluar dalam pernyataan Jenderal Soemitro.

Pada tanggal 10 Oktober 1970, Ketua Umum DM ITB Syarif Tando mengadakan long march Bandung-Sukabumi untuk mengadakan demonstrasi di depan Akademi Kepolisian di Sukabumi. Long march ini diikuti mahasiswa dan pelajar Bandung. Saat itu keluar pelesetan AKABRI, Akademi Kepolisian Alat Bunuh Rakyat Indonesia. Peristiwa Rene Conrad berkembang menjadi ketidakpuasan kaum muda atas tindak-tanduk militer seperti karcis kereta dan angkutan yang sering tidak dibayar, truk militer sering dipakai untuk mengangkut sayur dan buah-buahan dari Lembang, dan tindak-tanduk semena-mena militer yang menyakiti rakyat di berbagai daerah juga diangkat.

Penyidikan yang dilakukan oleh polisi, malah mengarahkan tuduhan pada seorang bintara Brimob, bernama Sersan Mayor Djani Maman Surjaman, yang berdiri di pertigaan Taman Sari-Ganesha, depan Kebon Binatang. Sersan Djani yang tidak tahu-menahu soal peristiwa ini diadili. DM ITB yang mengetahui peristiwa ini melalui Adnan Buyung Nasution, pengacara Sersan Djani, menunjukkan solidaritas mereka dengan mengadakan aksi ‘DOMPET UNTUK SERSAN DJANI’. Bantuan ini berlanjut kepada DM ITB kepengurusan Tri Herwanto (1971-1972), sampai kepengurusan Sjahrul (1972-1973). Bagaimanakah nasib para taruna yang sebenarnya melakukan pengeroyokan itu, tidak jelas sampai sekarang, apalagi Nugroho Djajusman adalah anak seorang jenderal polisi.

Peristiwa Rene Conrad meninggalkan luka mendalam di kalangan mahasiswa ITB khususnya, dan mahasisa Indonesia pada umumnya. DM ITB menamakan Gerbang Depan ITB itu sebagai Gerbang Rene Louis Conrad, dan setiap tanggal 6 Oktober diadakan peringatan Peristiwa Rene Conrad, sebagai peringatan konflik ini. Peringatan ini terus diperingati sebagai pemanasan menuju gerakan mahasiswa 1974 yang berakhir dengan Malapetaka 15 Januari (Malari), Gerakan Anti Kebodohan 1977, dan Gerakan Mahasiswa 1978 (Buku Putih Perjuangan Mahasiswa) yang berakhir dengan diserbunya kampus ITB, dua kali, dan kampus disterillkan dari mahasiswa.

Konflik antara negara dan rakyat, yang ditandai dengan konflik mahasiswa-militer ini, menjadi awal sentimen antara mahasiswa dengan alat-alat negara lainnya. Menjadikan kita semua lupa, bahwa mahasiswa dan militer pernah bekerja sama melawan Belanda, merebut Irian Barat, dan mengusung Orde Baru. Dan saya kira, luka-luka akibat peristiwa Rene Conrad, Malari, 1978, 1989, 1998, Trisakti, Semanggi I, dan Semanggi II, belum pulih sampai sekarang.

Apakah generasi muda hari ini tidak mau belajar dari sejarah? Kalau mau belajar, apa yang harus diambil dari peristiwa ini? Saya kira kita dapat menjawabnya sendiri.

Merdeka!!!

Sumber:
- Francois Raillon. 1984. Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia 1966-1974, Jakarta: LP3ES
- Rum Aly. 2004. Menyilang Jalan Kekuasaan Militer Otoriter. Jakarta: KPG
- Rum Aly. 2006. Titik Silang Jalan Kekuasaan Tahun 1966. Jakarta: Kata Hasta
(diambil dari notes Hanief Adrian (PL ’03))

About these ads

About Arif Wibowo

Live in Jakarta, Indonesia. Working in oil & gas company. Like traveling, bicycle, and photography. Born in Sukabumi, West Java. Graduate from Physics ITB 1985.
This entry was posted in History, Indonesia and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s